|
Setelah
rasa capek yang berlebihan, senang, sedih, haru dan bangga atas anak didiknya
yang telah berlaga di sebuah pertandingan maupun penampilan marching band, kini
giliran pelatih, pengurus dan pemberi materi yang mulai pusing memikirkan langkah
apa yang akan dilakukan tahun depan. Dan setelah melihat banyak band yang bertanding
saat itu, maka bertambah pusinglah pelatih, “Paket itu sudah dimainkan
band lain, paket yang saya pikir jauh-jauh hari, sudah dimainkan juga, mau mainkan
apa lagi yah?” Lalu bagaimana membuat dan menyiasati sebuah bentuk paket
penampilan yang efektif namun menarik?
Biasanya hal ini merupakan ‘dapur’ masing-masing pelatih kepada
bandnya, karena terkadang rahasia kesuksesan suatu band bergantung pada ‘ide
dan kreatifitas’-an pemberi materi ini, termasuk saya. Namun apalah gunanya
menyembunyikan sebuah ilmu, yang kelak akan ditinggal mati oleh orangnya. Alangkah
baiknya menyebarkan ilmu sebanyak-banyaknya kepada khalayak ramai yang berguna
untuk memajukan per-marching band-an. Bethul tidhak? (dengan gaya aa’
Gym…)
Di Amerika, ilmu menciptakan suatu pagelaran marching band sudah dibukukan dalam
berbagai buku pendidikan musik dan marching band. Ada banyak cara dan pedoman
dalam merangkai suatu tema pagelaran marching band. Salah buku favorit saya
karya Wayne Bailey berjudul “The Complete Marching Band Resource Manual”,
dijelaskan banyak mengenai persiapan sebuah marching band menghadapi sebuah
penampilan dan pertandingan. Salah satu faktor terpenting adalah menyeleksi
musik yang akan dimainkan. Tidak semua musik dapat cocok dimainkan oleh marching
band. Sebaiknya ambil lagu yang mempunyai form ABA atau AB. Biasanya dalam puisi
atau sajak, banyak memakai istilah ini, sama juga dengan sebuah lagu, dimana
A dapat diartikan Verse 1, B diartikan Reffrain (Reff). Apabila lagu tersebut
mengikuti standar format ini, maka dengan mudah dapat direproduksi ke lagu marching
band. Format AB dapat dengan mudah ditranskripkan ke marching band, dimana polanya
dapat berubah menjadi format klimaks di aransemen marching band. Format tersebut
bisa berbeda dengan lagu aslinya, sepanjang benang merah lagu tersebut masih
ada.
Faktor lain dalam memilih lagu adalah, cari di melodi lagu tersebut yang kira-kira
dapat menjadi sebuah frase yang klimaks, baik bernuansa kuat dan keras, atau
bahkan lembut sekali. Sehingga penggubah lagu dengan mudah mentranformasikan
lagu tersebut ke dalam bentuk aransemen marching band. Sang pembuat display
pun akan begitu mudah memvisualisasikan gerakan dan konfigurasi display sesuai
dengan lagu tersebut. Semua melodi lagu harus mempunyai efek dan emosi secara
klimaks (Bailey, 1994). Namun, kebanyakan di lagu-lagu pop sekarang ini, jarang
sekali dijumpai melodi yang demikian, sehingga menuntut sang arranger untuk
berpikir lebih keras lagi bagaimana mengangkat lagu itu.
Setelah mendapatkan gambaran tentang lagu-lagu yang akan dimainkan, tugas arranger
selanjutnya adalah bagaimana merangkai semua lagu tersebut ke sebuah tema penampilan.
Menurut saya, disinilah letak kreatifitas dan keahlian seorang arranger. Apakah
semua lagu tersebut mempunyai benang merah yang sama, sehingga dapat dihubungkan
satu sama lain? Apakah lagu-lagu tersebut berkonotasi keras semua, atau lembut
semua? Dan apakah melodi-melodi dalam lagu tersebut dapat ditukar-tukar ke setiap
lagu, atau dijadikan sebuah Introduction dan Ending sebuah pagelaran? Semua
ini membutuhkan pemikiran serius.
Sebuah pengalaman menarik, saat saya membuat tema MBUI tahun 2002 mengikuti
GPMB, satu hal yang menjadi trigger saya saat itu, adalah bahwa banyak sekali
band-band saat itu yang memainkan lagu-lagu DCI dengan transkripsi. Itupun terkadang
meniru habis sampai ke display dan pakaiannya. Hal ini membuat saya berpikir
untuk ‘mengalihkan’ perhatian ‘DCI-maniac’ kembali menjadi
‘Indonesian-maniac’. Ketertarikan ini ditambah lagi dengan keikutsertaan
saya dalam Daya Big Band, pimpinan Prof. Deviana Daudsjah, yang hampir semua
repertoire-nya bernuansa lagu daerah.
Nah, disini tantangannya. Disaat semua orang mendapat ide dan meniru DCI, tanpa
memikirkan benang merah tema, saya harus menyusun lagu-lagu daerah, yang konon
susah untuk di gabungkan dalam sebuah pagelaran marching band yang dinamis.
Namun tekad saya bulat untuk mengubah animo masyarakat marching band di Indonesia.
Mengikuti acuan Wayne Bailey, sayapun membuat suatu grafik pagelaran, berisi
garis linear pembentuk karakter dan emosi lagu untuk satu paket. Dari keempat
lagu yang akan dimainkan, semuanya harus mempunyai karakter dan emosi yang kontras
satu sama lain, agar grafiknya tidak lurus horisontal. Saat itu, saya mulai
dengan lagu “Sing-sing So ala bolero” yang bernuansa hening dan
pelan, hanya suara snare drum. Berpedoman pada benang merah bolero yang berangsur-angsur
keras sampai klimaks dan megah, maka lagu daerah batak ini saya buat sama. Maka
jadilah sebuah lagu daerah yang khas namun menggugah. Dr. Steven Grimo menjelaskan,
bahwa lagu pertama sebuah pertunjukan harus mendapat kesan “Welcome to
our performance!” (Whaley, 2005). Berkesan dan berciri khas merupakan
pesan yang harus disampaikan di lagu pertama.
Tantangan berikutnya adalah bagaimana dengan lagu selanjutnya? Mau saya apakan
benang merahnya? Mudah saja, setelah lagu satu diakhiri dengan klimaks yang
keras, maka lagu 2 dapat kita santaikan lagi, mengingat tenaga para pemain sudah
terpakai habis saat ending lagu satu, maka kita sebagai arranger, ‘menyiapkan’
lagi tenaga mereka di lagu selanjutnya dengan memulainya dengan antiklimaks.
Lagu Gundul-gundul pacul dipilih, bernuansa jazz swing yang ringan, namun terasa
enak di telinga. Penonton pun dibuat menikmati lagu ini agar dapat mengikuti
tema yang kita buat, ditambah percussion feature penambah greget lagu
gundul-gundul pacul.
Sedikit ‘bandel’ dengan keadaan, saya masukkan interlude ilir-ilir,
dimana hanya pit percussion yang bermain, sembari pemain brass dan battery beristirahat
dan menyiapkan tenaga untuk menghentak di lagu ke 4.
Puas dengan irama yang tenang, mari kita pacu lagi dengan penampilan yang lebih
kencang, keras, dan dinamis. Kompilasi lagu jawa barat dipilih antara lain ‘es
lilin dan pileuleuyan’. Nada-nada berkonotasi minor membuat saya berani
menggabungkan dengan lagu klasik, agar lebih tegas dan kaku. Lagu pileuleuyan
melanjutkan irama lagu ini dengan ‘menabrak’ tempo cepat 150 dengan
irama syahdu dengan tempo 85 (ide saya ambil dari lagu 3 Blue Devils tahun 98).
Lagu kelima, sebagai lagu pamungkas harus dibuat berbeda dan merupakan kompilasi
dan klimaks dari pertunjukan ini. Namun disaat melihat lagu 4 dengan penuh irama
keras dan menghentak, sudah waktunya untuk membawa tema ini ke nuansa antiklimaks.
Dengan ‘berkedok’ lagu yamko rambe yamko dan cuplikan dari berbagai
lagu sebelumnya, dan diikuti dengan sepenggal sing-sing so ala bolero, berangsur-angsur
pelan dan lembut dan diakhiri dengan seorang pemain snare drum ditengah lapangan,
tanda pagelaran telah usai.
Kalau dilihat dari grafik tema, akan terlihat seperti ini:
Ilustrasi grafik tema dengan skala bebas.
Masih banyak lagi kreatifitas yang bisa diambil dari grafik ini, lagu-lagu yang
dipilih sesuai dengan ‘hati nurani’ pelatih, benang merah antar
lagu, dan emosi yang diharapkan timbul dari penonton yang mendengarkan. Terus
terang, paket ini merupakan salah satu paket yang terpuas yang pernah saya buat
dengan MBUI.
Jadi, apakah sudah ada tema untuk pertandingan tahun ini? Kita lihat saja nanti…
Marbo
*Staff pengajar Binus Business School, Jupiter Indonesia Endorser.
Referensi:
Bailey, Wayne, The Complete Marching Band Resource Manual, University
of Pennsylvania Press, 1994
Whaley, Garwood., The Music Director’s Cookbook: Creative Recipes
for a Successful Program, Meredith Music Publication, 1st ed, USA, 2005
Baca juga :
Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |