Save
Lupa password?
Mau jadi member? Daftar
Library
Brass
Percussion
Color Guard
Drill & Display
Komunitas
Home
Redaksi
Profile
Free Email
English
Blog
Buku Tamu
Photo Gallery
Chat Room
Forum Diskusi
Profile Pelatih
Profile Band Unit
Kaleidoskop
Alamat Unit/Bands
Rekapitulasi Nilai
Downloads
Arsip Berita
Arsip Mailing List
Arsip Kolom Komentar
Bands of The Year
Info Iklan
Ranking Nasional
Reviews Alat
YouTube
Yang Online
Ada 1383 Tamu Online Dan 7 Member Online
Statistik
Anggota: 5205
Berita: 1295
WebLinks: 41
Pengunjung: 2206768
Ranking Table
Bahanna Distributor
SAITO CONCERT VIBRAPHONE
Wijaya Musik

Webstore

Ikut Milist TM

 
Powered by groups.yahoo.com
Dalam Negeri
DMC / IOMBC
D M O F
B M C
GPMB GPJB
K T D B
ISUZU DRUM CUP
BOMC
Open Tournament
FOMB
SMBC
IDCC
KIDS
Ciremai Festival
PDBI
T O M B
LANGGAM
JOMIKS
KOMBAT
F E D I
TOP DRUM BAND
J M C
Soedirman Open
PUMBA
HB CUP
Pencarian
Luar Negeri
D C I
W A M S B
W G I
N T C A
B O A
BFYMBO
 
Home
Masih Ingat Marching Band Sampoerna? PDF Print E-mail
Ditulis Oleh: Hermawan Kertajaya   
Kamis, 28 Januari 2010
GROW WITH CHARACTER

Hermawan Kertajaya

KHUSUS tentang yang satu ini, saya punya catatan tersendiri. Ketika itu, lebih dari dua puluh tahun lalu, semua orang di Sampoerna dibikin bingung dengan ide tersebut. Hah...? Perusahaan rokok kretek nomor empat bikin Marching Band? Ini ide kelewat "edan" kan? Tidak terpikirkan dan terbayangkan oleh semua orang ketika Pak Putera mem-brief tentang hal itu. Jumlah pemain harus 234 orang! Dji Sam Soe kan?

Semuanya harus karyawan pelinting rokok! Padahal waktu itu yang paling terkenal adalah Drum Band AAL di Surabaya. Akademi Angkatan Laut, yang pemainnya para kadet. Gagah, muda dan cekatan. Kalau di Jakarta, yang terkenal, waktu itu Drum Band Tarakanita. Yang main cewek ayu-ayu dan masih muda juga.

Jadi, ketika itu kami semua bingung dan nggak bisa membayangkan bagaimana para pelinting rokok yang tradisional itu bisa di-"transformasi" menjadi pemain Marching Band. Tapi kenyataannya bisa!

Para pelatih dari Amerika didampingi asisten mereka yang orang Indonesia ternyata bisa mendisiplinkan mereka. Latihannya harus sesudah jam kerja, tentunya dengan uang lembur.

Karyawan sebuah pabrik rokok yang biasanya dibayar berdasarkan kuantitas batang rokok yang dilinting, malah dibayar lembur untuk sekadar latihan baris-berbaris dan main musik! Sudah keluar dari "pakem", kata orang! Selain itu, juga diundanglah para penata tari kelas satu dari Indonesia untuk mempersiapkan "float" Indonesia

Di Pasadena, sebuah kota kecil di California, setiap tahun memang ada Rose Bowl pada 1 Januari. Pada hari tahun baru itu, ada "grand final" football Amerika di antara dua tim yang selalu ditunggu-tunggu orang. Karena itu, wali kotanya juga sekalian membuat yang namanya Rose Parade. Sebuah parade tahunan yang diikuti banyak tim Marching Band beserta Float-nya!

Float itu, mobil berjalan yang berada di belakang Marching Band, biasanya menampilkan berbagai atraksi. Sebagian besar peserta Rose Parade adalah tim lokal. Waktu itu, Sampoerna keluar dengan Float dan Marching Band Indonesia bersama beberapa peserta internasional lain. Karena itulah, beberapa orang penata tari direkrut untuk mengajari beberapa pelinting untuk jadi penari!

Untuk mendapatkan "tiket" Rose Parade, tentu Sampoerna mesti kerja keras. Melobi penyelenggara, melobi Deplu juga. Supaya bisa "mewakili" Indonesia. Sebuah pekerjaan yang amat rumit, melelahkan, dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan promosi rokok!

Sementara GG, Djarum, dan Bentoel sibuk bersaing dalam periklanan konvensional, Sampoerna justru keluar Satu Juta Dolar Amerika untuk membentuk Marching Band pelinting rokok! Kemudian, masih diperlukan satu juta USD lagi untuk "memberangkatkan" rombongan tersebut ke Amerika.

Selain main di Rose Bowl, Marching Band ini juga masuk Disneyland di Annaheim dan beberapa tempat lain di California. Karena itu, ada tim tersendiri untuk mengatasi "cultural shock" para pelinting rokok itu.

Di Rose Parade, tim Sampoerna Indonesia mendapatkan salah satu Award. Bisa memang bagus, bisa juga karena diplomatis. Tapi yang jelas, saya terkagum-kagum melihat para pelinting rokok Sampoerna pakai rok mini, stocking, pakai topi, dan main drum band.

Wali Kota Los Angeles Tom Bradley sangat berterima kasih atas keikutsertaan Indonesia untuk kali pertama, karena itu sempat men-declare tanggal 30 Desember 1989 sebagai Indonesia Day.

Saya ikut acara itu di City Hall, termasuk pengibaran bendera merah putih. Setelah pulang dari Amerika, Marching Band dimainkan di beberapa kota Indonesia. Bukan cuma Surabaya, tapi juga Jakarta, Bandung, dan lain-lain.Uniknya, Marching Band ini juga main di kota kompetitor seperti Kediri, Kudus, dan Malang!

Lantas apa maksud semua ini? Bagaimana perhitungan Return of Investment-nya? Pemberitaan besar-besaran oleh media di Indonesia luar biasa! Saya pun ikut menulis "pandangan mata" tiap hari dari California ke Jawa Pos saban hari selama dua minggu.

Rakyat Indonesia pun ikut bangga dan merasa bersyukur pada Sampoerna. Sebuah Corporate Brand yang tadinya jauh kalah populer dari Product Brand Dji Sam Soe menjadi langsung mencuat awareness-nya.

Bukan cuma itu. Corporate Brand "association" pun langsung terbentuk secara positif sebagai sebuah perusahaan yang nasionalis. Apalagi, kebetulan kretek kan memang "lambang" Indonesia. Itu karena cengkih adanya paling banyak ya di Indonesia. Kan orang Marketing mesti pintar main "ilmu gathuk"?

Belakangan, kami semua yang di Sampoerna baru "ngeh" bahwa inilah cara efektif untuk membangun sebuah Corporate Brand. Tapi, kenapa itu perlu? Ya, karena Sampoerna punya rencana go public!

Waktu Gudang Garam sebagai market leader go public sebelum Sampoerna, sahamnya laku keras. Itu disebabkan, investor percaya akan keperkasaan Gudang Garam sebagai pemimpin pasar dalam menciptakan profit jangka panjang.

Apalagi, kebetulan nama corporate dan produc- nya sama. Waktu itu Pak Putera mengatakan pada saya, "Sampoerna is a good name. It means 'perfect'. It is the best compared to our competitors. Unfortunately, nobody knew it!" Sedangkan Dji Sam Soe yang sudah sangat terkenal nggak bisa di "jual" sebagai Corporate Brand. Karena itu, tidak ada jalan lain, kecuali membuat Sampoerna yang kebetulan juga terdiri atas sembilan ( 2+3+4=9 ) huruf dibikin terkenal!

Namun, orang tidak otomatis akan membeli saham Sampoerna, seperti Gudang Garam, karena jumlah produk yang dijual baru peringkat keempat. Karena situasinya beda dan sangat "disadvantage" untuk Sampoerna, harus ada cara yang superkreatif!

Waktu itu penjualan produk-produk Sampoerna juga naik, walaupun tidak signifikan, ketika berita Marching Band ke mana-mana. Jadi, Marching Band ini bisa kena kepada tiga stakeholder utama Sampoerna, yaitu: people (pelinting), customer (pelanggan), dan investor (pembeli saham IPO ).

Super Kreatif, Super Smart dan Super Efektif.

Kenapa?

Sebab, belum tentu dengan keluar biaya yang sama, dua juta USD, Sampoerna bisa mencapai hasil seperti itu dengan cara komunikasi yang konvensional. Ini semua saya ingat-ingat ketika saya akan mulai MarkPlus Professional Service di Surabaya pada 1 Mei 1990.

(*)

Sumber : Jambi Ekspres

Komentar
harapan MB.Sampoerna lahir kembali
Ditulis oleh drumline pada 2010-01-28 21:41:27
saya selaku alumni Universitas Surabaya sama dengan pak hermawan sangat sepakat sekali bahwa cara komunikasi yang konvensional untuk membentuk coorporate brand sebuah perusahaan melalui sebuah kegiaan seperti Marching Band sangatlah kreatif n efektif... 
selain itu pula, dengan Marching Band juga bisa memberikan pilihan kepada pemuda-pemudi Indonesia dalam memilih kegiatan yang positif... apalagi dengan perkembangan dunia marching band Indonesia yang sangat pesat akan banyak membantu dalam hal publikasi setiap perusahaan yg memiliki kegiatan2 seperti Marching Band... 
berharap MB.Sampoerna terlahir kembali... 
dan bersaing di tingkat nasional melalui GPMB serta Internasional di berbagai event lainnya...  
 
-Yuddi Effendi ass.pelatih MB.Semen Gresik-
publikasi?
Ditulis oleh ogi pada 2010-01-29 23:54:46
dalam hal pembinaan, saya setuju. tp kalau publikasi? publikasi sperti apa ya? yg mengenal mungking hanya komunitas MB saja, diluar komunitas MB? dan secara signifikan dana yg dikeluarkan, sejauh mana bisa membantu brand building Sampoerna/ produk lainnya di benak masyarakat? di tengah era krisis global skrg, dimana setiap corporate hrs mengencangkan budgetnya, apakah masih efektif dengan corporate band seperti yg anda katakan? 
 
tks

Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar.
Silahkan login atau daftar.

Powered by AkoComment 2.0!

< Sebelum   Berikut >
Berita/Artikel Terbaru
Popular
Komentar Artikel/Berita

:) emm saya jg spendapat klo sparadha masuk dalam best...
Oleh: encorpstyle
[2010-03-11 10:35:41]


:) hallo mas nimon, salam kenal. saya menyesal kmrn g bs...
Oleh: encorpstyle
[2010-03-11 10:03:59]


Terimaksih atas usulannya...! 
Untuk Sementara pada Tahun...
Oleh: Bams
[2010-03-11 08:58:34]

 
Trendmarching : Portal Informasi dan Edukasi Marching Band Indonesia
© 2007 Trendmarching.or.id All rights reserved
design | sikumbang

eXTReMe Tracker