|

Oleh: Marko S Hermawan.
Jupiter Indonesia Endorser
Berhubungan dengan episode sebelumnya mengenai pemanasan alat tiup, marilah
kita lanjutkan pembicaraan berikutnya. Latihan selanjutnya adalah memperhatikan
nada pendek dan nada stakato.
SHORT NOTES
Biasanya latihan ini merupakan rangkaian pemanasan setelah Long Tones. Pemanasan
ini bertujuan untuk memperkuat nada stakato, aksentuasi dan tekanan nada. Berawal
dari nada ‘do’ ditiup sebanyak 4 atau 8 ketuk, dilanjutkan ke skala
berikutnya.
Nah, untuk yang ini barangkali lebih banyak detail yang harus diperhatikan,
mengingat pemain merasa ‘gampang’ untuk dimainkan (tidak perlu nafas
banyak, pendek pula notnya). Namun jangan salah kaprah, justru kebanyakan persoalan
artikulasi lagu berawal dari cara pemain meniupkan alatnya.
Tanpa melihat secara teori yang benar dan referensi yang akurat, pasti anda
yang biasa mendengar suara stakato pada alat tiup, akan terasa perbedaannya
di setiap pemain. Tiupan berlafal “Ta”, “Tat”, “Da”,
“Du”, “Di” mempunyai karakteristik yang berbeda satu
sama lainnya. Tergantung dari tanda baca dalam not, anda sebagai pelatih mempunyai
preferensi tersendiri untuk mengekplorasi tipe suara yang dihasilkan oleh artikulasi
tersebut. Namun, yang terpenting adalah, artikulasi dan lafal tiupan di setiap
pemain HARUS sama untuk satu tanda baca not !! Dan semua itu berawal dari pemanasan
stakato yang ‘membosankan’ bagi pemain, tapi penting sekali untuk
menyeragamkan bentuk dan karakter suara brass.
MEMBOSANKAN
Nah, ini dia yang menjadi kendala di hampir semua pemain!! Bukannya apa-apa,
saat pemanasan dimulai, apakah semua senior yang sudah ‘jago-jago’
dan sudah bertanding di GPMB berkali-kali itu akan mengikutinya? Saya jamin
mungkin sedikit, bahkan tidak ada yang ikut. Mengapa? Sebagian besar senior
ini akan berpikir, “Ah, pemanasan seperti itu bosan, ga ada efek tambahan
bagi saya.”
Hal-hal ini kemungkinan berdampak buruk pada kekompakan tim, terutama hubungan
antara senior dengan juniornya. Secara psikologis, mereka akan membuat kesenjangan
antar pemain, yang akan berakibat pada semangat dan kekompakan tim. Bailey (1995)
menyebutkan, “Tujuan sebuah latihan adalah lebih kepada tujuan psikologis
daripada musikalnya.” Disisi teknis, ketidakhadiran senior ini akan berdampak
teknik tiupan akan cenderung berbeda antar pemain senior dan junior, dan akan
berakibat pula pada perbedaan artikulasi tiupan.
Jadi, bagaimana mengantisipasi ‘kebosanan’ ini? Adalah tugas seorang
pelatih dan pemberi materi untuk memikirkan hal ini. Kebanyakan mereka lebih
terkonsentrasi pada pemberian materi lagu paket, memoles dan memperbaiki (drill)
lagu tersebut. Bagi saya pribadi, saya lebih menyenangi untuk memoles pemanasan
dasar dan menguliknya menjadi sebuah lagu atau kord sederhana, namun menunjang
ke teknis lagu tersebut. Sedikit saran tentang pemanasan dasar dan bervariasi
antara lain:
a. Untuk pemanasan nada panjang skala do, dibuat 3 suara (do, me, sol), trumpet
dan mello mulai dengan do 8 ketuk, saat high brass meniup me, trombone baritone
eup baru mulai dengan ‘do’, begitu seterusnya, sehingga tercipta
2 – 3 suara yang berbeda.
b. Untuk pemanasan nada pendek juga dapat dilakukan bervariasi, buatlah kord
sederhana yang mewakili teknik tiupan stakato.
c. Pemanasan campuran, yang menggabungkan antara kord nada panjang dengan nada
pendek (tonguing technique), maka tercipta lagu sederhana sebagai penunjang
lagu proyek. Ketika saya melatih sebuah unit di Jakarta, saya memakai lagu pemanasan
untuk menunjang lagu proyek, dan ini terbukti sangat efektif dalam meningkatkan
kemampuan pemain. (contoh lagu dapat
di download).
Fokus
perhatian:
a. Saat ketukan pertama dibunyikan, apabila tidak sama nadanya atau ketukan
lebih cepat, maka pemanasan diulangi dari awal. Biasakan seperti itu, agar pemain
lebih fokus dan konsentrasi.
b. Saat kord dimainkan, suruh para pemain untuk mendengarkan suara rekan yang
mempunyai nada yang berbeda dengan nada yang ditiupnya. Ini mengajarkan kepada
mereka untuk mendengar dan menikmati kord sebuah lagu, agar mereka peka terhadap
not yang lain. Manfaat lain adalah pemain dapat belajar ‘sound-balanced’
antar sesamanya.
c. Artikulasi setiap pemain mulai dibenahi di setiap pemain, dan kemampuan antara
junior dengan senior disamakan. Ajak para senior untuk melatih juniornya dan
beri target kepada mereka agar kemampuan junior dapat menyamai seniornya. Dan
untuk senior, jangan biarkan mereka tidak latihan pemanasan. Beri mereka teknik
yang lebih tinggi dan menantang lagi.
KESIMPULAN (dari part 1 dan 2)
Seberapa kreatifnya dan jelinya sang pelatih menjadi faktor utama efektifnya
sebuah pemanasan. Kurangnya perhatian yang baik tentang pemanasan menyebabkan
ketidakefektifan pemanasan itu sendiri, dan hal ini sudah menghabiskan waktu
yang seharusnya dapat meningkatkan teknik dan kemampuan para pemain. Beberapa
saran para ahli yang kiranya dapat membantu secara psikologis antara lain:
a. Barry Ward: Penampilan band bagus berawal dari pemanasan yang tersusun rapi
dan kreatif (Whaley, 2005). Sebuah part pemanasan dapat diimprovisasi sedemikian
rupa agar dapat mendukung pemanasan dasar itu sendiri. Beri judul yang menarik
untuk setiap pemanasan baru, seperti “Not Neraka”, “Longest
Not Ever…”, “Lidah Kejepit”, yang dapat menarik perhatian
pemain.
b. Wayne Bailey: Pemanasan terdiri dari teknik nafas, flexibility exercise,
long tones, dan power buildings. Latihan nafas merupakan latihan yang SANGAT
PENTING untuk membangun kekuatan dan kontrol nafas. Latihan ini juga mempengaruhi
kualitas suara (tone quality) dari setiap pemain (Bailey, 1995). Sekali lagi,
pelatih HARUS berada di setiap pemanasan untuk mengontrol jalannya latihan ini.
Dalam
satu kalimat, buatlah pemanasan semenarik mungkin bagi para pemain, berilah
tantangan yang baru di setiap pemanasan, agar pemain terpacu untuk mengikutinya
dengan serius. Dan terakhir, musik itu adalah keindahan, berawal dari pemanasan
yang ‘indah’.
Selamat berlatih,
Marbo
Reference:
Ward. B, “Time have changed: How about your warm-up”
article on Garwood Whaley, The Music Director’s Cookbok: Creative Recipes
for a Successful Program, Meredith Music Publication, 2005
Bailey. W, The Complete Marching Band Resource Manual,
University of Pennsylvania Press, 1995
Baca juga :
Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |