
Oleh: Marko S Hermawan
Jupiter Indonesia Endorser
Memang sudah menjadi naluri sebagai dosen, maka apapun itu, semuanya harus
ada proses belajar mengajar. Dan ini termasuk dunia marching band yang telah
menjadi bagian dari “darah” dalam pembuluh saya. Ide ini sebetulnya
muncul ketika saya masih belajar di sekolah keguruan musik Institut
Musik Dr. Pono Banoe. Namun baru sekarang bisa ditumpahkan dalam
tulisan sederhana ini. Konsepnya cukup mudah, dan mungkin sudah diterapkan oleh
beberapa rekan pemerhati marching band di Indonesia.
Berawal dari kegiatan belajar mengajar di kampus saya, yang mana semua materi
dan buku teks telah disiapkan sedemikian rupa untuk kegiatan perkuliahan, mengapa
tidak dilakukan di dunia Marching Band. Sepertinya kita melupakan sesuatu dimana
marching band juga merupakan kegiatan membutuhkan pendidikan, arahan dan konsep
yang jelas.
Dalam
karya tulis saya yang berjudul “Marching Band: analisa sebuah
organisasi menggunakan ilmu multi-disiplin” dijelaskan bahwa
aktifitas marching band dapat dihubungkan oleh berbagai disiplin ilmu, seperti
ilmu manajemen, psikologi dan ilmu musik. Semua displin tersebut sangat berkaitan
erat dengan semua kegiatan yang dilakukan oleh sebuah marching band.
Dari sisi ilmu manajemen, banyak faktor yang mempengaruhi keberadaan sebuah
marching band dari sisi profesionalitas manajamennya. Kutipan dari karya tulis
saya adalah “Selayaknya sebuah manajemen perusahaan, maka organisasi marching
band memerlukan komitmen dan kerja keras dari para komponen internal. Dengan
mengadopsi teori manajemen, organisasi marching band harus mempunyai proses
PODC, yaitu Perencanaan (Planning), Pengorganisasian (Organizing), Pengaturan
(Directing), dan Pengontrolan (Controlling) (Griffin, 1996).”
Tulisan saya berlanjut kepada hubungan marching band dengan ilmu psikologi.
Ternyata didapati banyak sekali kaitannya dengan sistem latihan dalam marching
band. Salah satu teori motivasi yang aplikatif digunakan dalam karya tulis saya
adalah penerapan teori “Maslow’s Hierarchy of Needs”. Teori
ini apabila dikaitkan dengan sistem latihan dalam marching band akan menjadi:
|
No
|
Kebutuhan
|
Definisi
|
Penerapan di marching band
|
|
1
|
Psikologis
|
Makanan, minuman, bernafas
|
Cukupkah
makanan dan istirahat yang diberikan selama latihan?
|
|
2
|
Keamanan
|
keamanan fisik dan
emosi
|
Bagaimana
keadaan latihan di lapangan? Apakah terlalu panas, terlalu lama, terlalu capai, terlalu ketat?
|
|
3
|
Sosial
|
berafiliasi, sayang menyayangi
|
Bagaimana
pergaulan dengan rekan, pengurus dan Pembina? Apakah Pembina suka mendatangi latihan untuk menyemangati pemain?
|
|
4
|
Ego
|
Penghargaan, Kehormatan, Pengakuan
|
Bagaimana
penerapan hukuman dan penghargaan yang diberikan kepada pemain? Apakah ada penghargaan atas usaha dan
kerja keras selama latihan?
|
|
5
|
Realisasi
Diri
|
Pengembangan diri, pencapaian
cita-cita
|
Apakah setiap pemain mendapat kesempatan untuk menimba ilmu musik? Apakah
pelatih mempercayakan pemain untuk menangani lagu yang sulit, sehingga timbul tantangan baru?
|
Ditinjau dari segi ilmu musik, sudah barang tentu banyak sekali kaitannya dengan
marching band. Ada banyak ilmu musik berkenaan dengan ansambel yang seharusnya
sudah diberikan sejak bangku sekolah. Salah satunya pemikiran praktis berasal
dari Prof. Gary Corcoran, dimana ia membuat metode “Linear Balance”
(Keseimbangan Linier). Terminologi keseimbangan musik dalam ansambel terkadang
menjadi rancu bagi pemimpin lagu dan pemain, dimana masing-masing mempunyai
interpretasi dan konsep yang berbeda-beda (Whaley, 2005). Secara harafiah, Balance
berarti bercampur dan membuat satu suara secara harmonis. Pemain yang memainkan
akord dalam lagu itu ditekankan untuk bermain secara seimbang untuk mengahasilkan
efek musik yang harmonis.
Penelitian saya diakhiri dengan kesimpulan bahwa dalam membuat sebuah marching
band, sebuah badan hukum, universitas atau sekolah hendaknya mengetahui apa
tujuan dasar dari pembentukan organisasi ini. Sebuah organisasi marching band
yang solid adalah organisasi yang memperhatikan struktur dan hirarki secara
konsisten, pendelegasian tugas dengan tepat, pengarahan anggota dengan tegas,
dan pengontrolan kinerja yang sistematis. Ada baiknya organisasi marching band
meniru gaya manajemen perusahaan, sehingga dapat dilakukan secara professional.
Marbo
Referensi:
Griffin, Ricky W & Ronald J. Ebert., Business, Prentice Hall International,
4th ed, USA, 1996
Whaley, Garwood., The Music Director’s Cookbook: Creative Recipes
for a Successful Program, Meredith Music Publication, 1st ed, USA, 2005
Baca juga :
|
hi.... mas Ditulis oleh rezash pada 2008-08-28 13:38:33 memang mas marko sebira ni gak khbisan akal utk mengembangkn marching band d indonesia... wah hbat bner ya... sampe2 dy mngungkap hal positif bgi para marching band lovers d indonesia tercinta ni. smpe2 dr sisi ilmu manajemen n psikologis ada hubngn na dgn mb. slm knal mas dr sy... smoga ini bermanfaat bgi sya n smua na pzti na. bye... mas marko sy tnggu y utk tips2 yg lainna thanks.. |
Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |