|
Refleksi Fungsional-Pedagogis Terhadap Peranan Ekstra Kurikuler Marching
Band Dalam Mengangkat Prestasi Belajar Siswa
Pengantar
Skema permasalahan pendidikan di Indonesia jika dilihat dari perspektif fungsional-pedagogis
menurut Mochtar Buchori1 lebih terletak pada kemampuan institusi pendidikan
untuk melahirkan perbaikan inter-generasional dan intra-generasional dalam tubuh
pendidikan itu sendiri.
Sedang dalam persepsi Anderson (1977)2, secara sentripetal, pembangunan Indonesia
diarahkan untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya serta masyarakat Indonesia
seluruhnya dalam rangka mewujudkan wajah masyarakat yang adil-makmur berdasarkan
Pancasila dan UUD 1945. Konsekuensinya, dengan cara memperluas dan meningkatkan
kualitas pendidikan bagi seluruh warga Negara.
Kualitas SDM pendidikan serta sarana-prasarana memadai dan manajerial yang
profesional, pada sebuah institusi pendidikan diharapkan mampu untuk mendongkrak
prestasi siswa yang pada gilirannya mengangkat prestige sekolah yang bersangkutan.
Kita semua telah memahami, selama ini institusi sekolah telah cukup memberi
perhatian lebih pada pendidikan intra kurikuler sebagai pondasi utama pembelajaran.
Realitas empiris ini memang mesti disetting demikian, namun begitu, kini telah
tiba waktunya untuk lebih menggali potensi terpendam pada matra ajar eksperimentatif
yang bernama populis, ekstra kurikuler. Tentu, eksperimen di sini bukan berarti
asal-asalan dan menebak-nebak tanpa dasar sama sekali, meski kebanyakan opini
publik melihat tentang manfaat kegiatan ekstra kurikuler ini dengan tatapan
minir.
Marching band, bila ditilik dari citra sejarah serta filosofisasi yang mengelilinginya,
bisa dikategorikan sebagai primadonanya ekstrakurikuler sekolah. Bagaimana tidak,
beberapa literasi3 mutakhir yang telah mengeksplorasi dunia marching band dari
multi perspektif, secara naratif mayoritas berbicara positif tentang puspa-ragam
seluk-beluk serta pengaruh sugestif yang ditimbulkannya bagi pemberbudayaan
karakter maupun sikap mental siswa. Menjadikan siswa lebih berbudaya dan cerdas4.
Pembelajaran intra kurikuler banyak disinyalir pakar pedagogis melatih otak
sebelah kiri sedang ekstra kurikuler mengasah belahan otak kanan, jadilah ia
neraca keseimbangan. Keseimbangan secara psikologis berefek menentramkan jiwa.
Goldman (dalam Erman, 2004)5 kian melengkapi testimonial di atas, selanjutnya
ia mengatakan bahwa, kecerdasan individu terbagi ke dalam kecerdasan intelektual
(IQ) pada otak kiri dan kecerdasan emosional (EQ) pada otak kanan yang saling
mempengarahui, di mana IQ berkontribusi untuk sukses hanya sekitar 20% sedangkan
EQ bisa mencapai 40%. Dengan demikian kompetensi siswa menjadi terlatih dan
mendapatkan posisi serta porsi yang semestinya diperoleh yakni, mengekspresikan
kompetensinya pada pelajaran ekstra kurikuler, utamanya marching band. Artinya
pula, antara Kirnadi selaku pelaku lapangan (baca: pelatih senior drum/marching
band) dengan pernyataan Goldman ini memiliki tingkat kohesifitas yang tinggi
dan terbukti korelatif, dan agaknya pula telah cukup memberikan kerangka pijak
yang kuat bagi pemahaman dan pencerahan kita semua, mengapa perhatian yang lebih
serius lagi sekaligus pembinaan ekstra kurikuler marching band yang dilakukan
secara lebih profesional lagi dalam hal koordinasi dan manajerialnya di setiap
institusi pendidikan atau sekolah-sekolah semakin ditingkatkan kualitasnya.
Sehingga keberadaan maupun peran marching band tak lagi dianggap matra ajar
‘sampingan’. Lebih dari itu, secara pedagogis pemikiran Goldman
di atas kian meyakinkan para stake holder terkait bahwa, waktu yang tepat untuk
mengangkat ekstra kurikuler marching band ke posisi dan porsi terhormat di sekolah-sekolah,
memang telah tiba!
Tinggal political will dari para pengambil kebijakan terkait yang mesti tanggap,
apalagi kini drum band telah resmi masuk dalam salah satu cabang olah raga yang
dipertandingkan dalam PON (Pekan Olah Raga Nasional) XVIII tahun 2012 di Riau
dengan tanpa eksibisi!6 Artinya, penghargaan dan penghormatan terhadap eksistensi
dan kontribusi drum band dalam kancah olah raga tingkat nasional benar-benar
diperhitungkan. Tentu hal ini mengisyaratkan kepada pihak-pihak terkait yang
berkompeten dalam masalah ini, dituntut untuk lebih serius dan lebih profesional
lagi menata segala macam tingkat urusan yang berkaitan secara langsung maupun
tidak dengan kemajuan serta peningkatan kegiatan serupa, utamanya di sekolah-sekolah
yang memiliki ekstra kurikuler marching band. Karena institusi seperti sekolah
inilah tempat persemaian terbaik, cikal-bakal terpilih bagi lahirnya marcher-marcher
tangguh yang berbudi-pekerti, berprestasi dan berpendidikan tinggi.
Maka sudah semestinya, para pemerhati pendidikan, pengambil kebijakan serta
pihak yang berkompeten dalam masalah ini, kian menyadari bahwa, kecerdasan rasional
yang telah dicapai seseorang tak akan pernah ada artinya tanpa dibarengi dengan
kecerdasan intuitifnya7. Salah satu media melatih kecerdasan intuitif yang telah
teruji adalah fungsionalisasi dan optimalisasi kegiatan ekstra kurikuler marching
band secara pedagogis8. Kian terbaca jelas bahwa, moment berharga dan strategis
ini hanya dimiliki oleh institusi sekolah.
Metodologi9 pendidikan di sekolah menurut De Porter (1992)10 sangat tepat dalam
menjembatani kepentingan pedagogis semacam ini, karena belajar merujuk pada
aktivitas siswa, sedang aktivitas individu dapat dipengaruhi oleh kondisi emosional.
Maka telah sepantasnya jika diciptakan suasana pembelajaran yang kondusif dalam
keadaan nyaman dan menyenangkan, yang hal ini merupakan tugas seorang guru sebagai
pendidik.
Menurut De Porter selanjutnya, dengan suasana yang kondusif inilah maka lahirlah
motivasi dan kreativitas. Kondisi seperti ini merupakan suatu cikal-bakal aktivitas
dalam belajar. Kenyataan mana telah sesuai dengan prinsip pakem, yakni pembelajaran
aktif, kreatif dan menyenangkan. Di dalam kegiatan ekstra kurikuler marching
band, ketiga modal prinsipil tersebut telah menemukan jawabannya yakni, mengandung
unsur pendidikan seni musik, olah raga yang kreatif karena mengkombinasikan
sisi kebugaran jasmani dan musikalitas serta, hiburan yang menyenangkan, karena
berpadu-padannya artistikal gaya dan model pakaian personelnya yang bagai fashion
show dengan ditingkahi blocking baris-berbaris nan dramatis, rapi dan menawan
serta, dinamisasi aransemen musiknya yang terdengar merdu-harmonis di telinga.
Beberapa pecinta dan pemerhati marching band sepakat, magnet tipikal inilah
yang membuat ekstra kurikuler marching band memiliki daya pikat tersendiri,
yakni memadukan edukasi dan rekreasi dalam satu cipta kreasi. Kemampuan yang
dimiliki oleh para personel marching band tersebut tentu telah sebanding dengan
ketekunan dan kedisiplinannya dalam berlatih, disamping adanya motivasi dalam
pribadi yang luar biasa kuat untuk maju, berkembang dan berprestasi.
Motivasi, Nalar dan Kreativitas Siswa : Marcher Sejati, Berprestasi
Tak Setengah Hati
Kamus Bahasa Indonesia mengeksplanasikan motivasi sebagai dorongan yang muncul
dalam diri seseorang secara sadar atau tidak, guna berbuat dan atau melakukan
suatu tindakan dengan tujuan tertentu11. Secara eksploratif pengertian motivasi
oleh E. Kusmana Fachrudin (2000)12 dibedakan atas dua stereotype yaitu :
1. Motivasi Asli, adalah motivasi untuk berbuat sesuatu atau dorongan untuk
melakukan sesuatu yang muncul secara kodrati pada diri manusia.
2. Motivasi Buatan, adalah motivasi yang masuk pada diri seseorang baik sebuah
usaha yang disengaja maupun secara kebetulan.
Selanjutnya, Irianto (1997)13, mengatakan motivasi eksternal adalah setiap
pengaruh dengan maksud menimbulkan, menyalurkan atau memelihara perilaku manusia.
Realitas ini semakin dikuatkan oleh Mulia Nasution (2000)14, bahwa motivasi
dari luar adalah pembangkit, penguat, dan penggerak seseorang yang diarahkan
untuk mencapai tujuan, yakni mencapai prestasi yang diharapkan. Sebab tidak
mudah menyeimbangkan antara prestasi belajar intra kurikuler atau akademis yang
telah dicapai dan dipertahankan, dengan prestasi ekstra kurikuler di bidang
marching band baik yang akan maupun telah dicapai. Diperlukan sebuah kesabaran
maupun kedisiplinan tinggi dalam menjaga kedua ranah prestasi ini.
Kalau ditanya mengapa tak mudah, semestinya kita melihat bahwa pencapaian prestasi
belajar tak terlepas dari diskursus arti belajar itu sendiri. Suryabrata (1984-1985)15,
mengidentifisir bahwa belajar adalah usaha yang dilakukan secara sengaja, yang
menimbulkan perubahan perilaku baik secara aktual maupun potensial dan berlaku
dalam waktu yang relatif lama.
Aktivitas belajar tak dapat dipisahkan dari prestasi belajar, kegiatan belajar
merupakan proses, sedang prestasi belajar merupakan hasil dari proses belajar.
Alhasil, beberapa faktor berikut ini berperan aktif mempengaruhi konsentrasi
belajar di antaranya, kemampuan bawaan anak, kondisi fisik dan psikis, kemauan,
sikap murid terhadap guru dan mata pelajaran serta pengertian mereka mengenai
kemajuan mereka sendiri dan bimbingan (Masrun dan Martaniah, 1973)16. Kondisi
belajar yang mencitrakan kondusifitas pengembangan intelektualitas siswa secara
aktif-kreatif bila dipadu-padankan dengan kegiatan ekstra kurikuler semisal
marching band maka, keseimbangan otak kanan-kiri siswa menjadi terpenuhi dengan
sempurna.
Disamping cerdas secara rasional, sisi pembelajaran emosional pun mampu dicapai
maksimal. Salah satu out put pembelajaran emosional dari marching band adalah
jiwa atau watak kepemimpinan yang tumbuh dalam pribadi siswa. Bruce J. Cohen
(1979)17
melihat semangat kepemimpinan ini sebagai :
1. Instrumental leader, who will organize and direct the
group, keeping in mind its goals and objectives and is responsible for formulating
the means that will be used to reach these ends.
2. Expressive leader, who tends to create feelings of good
will and harmony within the group: morale is usually maintained at a high level,
and internal disruption is held to a minimum.
Secara imperatif, pemikiran Bruce J. Cohen di atas bila dicermati benar mampu
untuk menghidupkan semangat kepemimpinan yang terdapat pada seorang paramananda
atau paramanandi. Kemampuan mereka terlahir karena didikan dan latihan yang
terukur serta berkesinambungan. Di bahu mereka terselempang beban moral yang
tak ringan, merekalah teladan bagi teman-teman anggota marching band lainnya.
Pada sisi lain, hampir mirip dengan pandangan Bruce J. Cohen, Krech and Crutchfield
(1948)18, lebih mengkritisi semangat kepemimpinan paramananda/paramanandi dari
dimensi symbol of the group, yakni seorang pemimpin yang menjadi lambang dari
apa yang dipimpinnya sekaligus berkarakter sebagai seorang panutan atau as exemplar,
yakni segala perilakunya menjadi teladan juga pengamatan dari kelompok yang
dipimpinnya.
Oleh karenanya, sekolah sebagai sebuah institusi edukatif sangat tepat jika
dijadikan benih persemaian bagi tumbuhnya jiwa kepemimpinan siswa yang terkandung
secara implisit dalam olah seni marching band. Kepiawaian seorang paramananda
atau paramanandi untuk mengatur pasukan baik gerak baris-berbaris maupun musikal
artistiknya menjadi sebuah harmoni penampilan yang utuh dan rampak, bukanlah
pekerjaan mudah. Dibutuhkan suatu pendidikan atau pelatihan luar biasa di dalamnya
maka, sudah menjadi jamak ketika sekolah bertugas melakukan fungsi pedagogisnya
tersebut. Di mana fungsi pedagogis sekolah secara sosiologis oleh Bruce J. Cohen
(1979, h. 71)19 ditegaskannya sebagai :
- Providing preparation for occupational roles
- Serving as a vehicle for the transmission of cultural heritage
- Acquainting individuals for certain expected socials roles
- Preparing individuals for certain expected social roles
- Providing a basis for evaluating and understanding relative status
- Promoting change through involvement in scientific research
- Strengthening personal adjustment and improving social relationships
Antara belajar dan prestasi belajar, terutama bagi siswa yang aktif dalam kegiatan
ekstra kurikuler marching band, memang membutuhkan ekstra perhatian pula. Pembagian
waktu atau pengaturan jadwal kegiatan intra maupun ekstra kurikuler mesti dikondisikan
sedemikian rupa agar masing-masing kegiatan tak saling menghalangi atau berbenturan
satu sama lain. Seperti diketahui bersama bahwa kegiatan marching band membutuhkan
suplay energi dan latihan fisik yang ekstra berat. Latihan-latihan fisik seperti
baris-berbaris, olah raga maupun senam kebugaran dan lain sejenisnya merupakan
rutinitas fisik yang hampir pasti menjadi ‘menu pembuka’ para personel
sebelum bermain marching band.
Sekedar ilustrasi, menurut standarisasi yang ditetapkan oleh PDBI (Persatuan
Drum Band Indonesia), ukuran berat masing-masing alat perkusi minimal tidak
boleh kurang dari 4,5 kilogram, multi tenor (trio/quad) minimal 5,5 kilogram
dan yang terberat, bass drum tak boleh kurang dari 6,5 kilogram20. Salah satu
mata lomba drum band adalah baris-berbaris, yang untuk SD berjarak 400 meter
atau 1 (satu) keliling lintasan/track atletik ukuran internasional, regu putri
berjarak 600 meter atau 1,5 (satu setengah) keliling lintasan/track atletik
ukuran internasional serta, regu putra berjarak 800 meter atau 2 (dua) kali
keliling lintasan/track atletik ukuran internasional21.
Sekarang kita bayangkan bersama, mereka membawa beban diluar berat tubuh mereka
sendiri seberat minimal 4,5 kilogram dengan berjalan secara disiplin sejauh
minimal 400 meter ditambah lagi mesti berkonsentrasi penuh memainkan alat musik
perkusi. Perpaduan kerja fisik dan kerja otak mesti terjalin padu dan tak boleh
sumbang. Dalam hal ini, sudah pasti ketahanan fisik menjadi taruhannya dan,
konsentrasi penuh pun menjadi beban tambahan tersendiri. Betapa keras dan beratnya
untuk menjadi seorang pemain marching band yang mustahil bisa dilakukan tanpa
latihan fisik maupun mental yang terukur secara ketat.
Namun, ketekunan dan kedisiplinan dalam berlatih fisik dalam marching band
telah semestinya berbanding lurus dengan ketekunan dalam belajar. Terlatih dalam
hal kedisiplinan dan ketekunan sangat membantu memotivasi siswa untuk tekun
belajar dan meraih prestasi. Sebab, prestasi belajar seorang siswa relatif berkorelasi
positif dengan metode serta pola dan kebiasaan belajarnya sehari-hari. Paling
tidak, inilah reportase penelitian ilmiah yang telah dilakukan oleh Purba Harjito
dan Sukarti mengenai prestasi belajar siswa beberapa tahun silam22. Padahal,
saat itu Purba Harjito dan Sukarti tak melihat kegiatan ekstra kurikuler marching
band sebagai salah satu variabel hipotesisnya dalam memotivasi belajar siswa.
Penelitian mereka hanya menggarisbawahi optimalisasi kinerja otak kiri belaka
tanpa memperhitungkan potensi besar otak belahan kanan manusia.
Jadi, tak ada alasan bagi siswa bahwa, kegiatan marching band dijadikan musabab
terganggunya prestasi belajar mereka. Masalahnya adalah bagaimana mengubah kebiasaan
dan pola belajar siswa menjadi lebih efektif sedemikian rupa sehingga terjadi
sinergi yang mutualistis diantaranya. Tak ada salahnya mempertimbangkan penelitian
Harjito dan Sukarti di atas sebagai bahan referensi dan perbandingan.
Maka ketika fungsi otak kanan dan kiri bekerja optimal yang dipicu salah satunya
oleh karena siswa aktif dalam kegiatan marching band (Goldman, 2005, dalam Erman
Suherman, 2008)23, semestinya antara prestasi belajar dan kegiatan marching
band mampu berjalan dan berbanding lurus. Agaknya, diperlukan suatu kebiasaan
belajar tersendiri untuk mencapainya. Dalam pada itu, Brown dan Holtzman (1965)24
mengingatkan bahwa kegiatan yang disebut belajar itu akan selalu dilakukan sesuai
dengan keadaan individu yang belajar, isi maupun materi yang dipelajari serta
lingkungan berikut situasinya. Tipikal kegiatan semacam inilah yang dimaksudkan
sebagai kebiasaan belajar. Selanjutnya dikatakan, rata-rata keberhasilan studi
siswa karena mengikuti pola belajar yang teratur yakni, belajar pada tempat
dan waktu yang teratur dan disiplin (Kolesnik, 1970)25.
Terkadang, ditemui banyak kasus pada siswa yang berprestasi rendah dan mengalami
kegagalan hanya karena mereka tak memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang
benar dan, ini justru jauh lebih banyak tatkala dibandingkan dengan sejumlah
siswa yang gagal karena memang rendah kecerdasannya (Keiter, 1976)26.
Siswa yang aktif dalam kegiatan marching band telah terbiasa dengan kedisiplinan
dan ketekunan dalam berlatih, baik secara fisik maupun dari sisi peningkatan
pengetahuan musikalitasnya. Apalagi tatkala persiapan menghadapi perlombaan
atau semacam festival marching band baik skala regional maupun nasional yang
memiliki jenis mata lomba uji ketahanan fisik, setiap siswa diharuskan memiliki
ketahanan tubuh yang prima27. Kebiasaan dalam menjalankan serba keteraturan
dan kedisiplinan ini, pada gilirannya akan mampu memotivasi semangat untuk belajar
dan berprestasi lebih baik lagi. Tatkala berprestasi di bidang marching band
saja dapat dicapai dengan ketekunan berlatih yang maksimal, mengapa prestasi
belajar tak bisa diraih dengan semangat dan metode yang sama?
Menggagas Marching Band sebagai Mata Ajar Intra Kurikuler
Sebagai bagian dari pendidikan kesenian khususnya seni musik, olah seni musik
ala marching band kiranya bisa diwacanakan ke kalangan pemerhati pendidikan
khususnya pemerhati kegiatan marching band bahwa, layak atau tidak model kegiatan
berkesenian ini berpindah status menjadi pelajaran intra kurikuler.
Asumsinya sederhana saja bahwa, semakin berfungsinya otak kiri dan sebelah
kanan pada masing-masing siswa diharapkan dapat berkorelasi positif terhadap
kemajuan motivasi belajar dan peningkatan prestasi belajarnya. Keseimbangan
yang diperoleh dari optimalisasi kinerja kedua belahan otak manusia tersebut,
sangat dipercaya oleh para ahli pedagogis maupun psikologis mampu memberi efek
menenangkan, menghibur dan membangkitkan semangat atau gairah seseorang untuk
melakukan aktivitas kesehariannya, seperti telah disitir oleh Goldman (2005,
dalam Erman Suherman, 2007)28, bahwa ketenangan dalam belajar diperoleh tatkala
ketenangan batin juga tercipta secara optimal.
Persepsi teoritik Goldman tadi jika diimplementasikan ke dalam kondisi belajar-mengajar
siswa, diimbangi oleh lingkungan rumah atau keluarga siswa yang intinya juga
menjunjung tinggi ketenangan dan kondisi nyaman di sekolah, didukung sepenuhnya
oleh Kellaghan (1977)29, ia mengatakan bahwa lingkungan keluarga mempunyai hubungan
yang lebih erat dengan prestasi belajar siswa di sekokah dari pada intelegensi
siswa itu sendiri. Secara pararel, Wechsler (dalam Crow and Crow, 1973)30 mentransparansikan
intelegensi sebagai kemampuan keseluruhan yang dimiliki oleh individu untuk
bertindak secara terarah, berfikir secara rasional dan menyesuaikan diri terhadap
lingkungannya secara efektif.
Artinya, tesis Kellaghan di atas menyatakan bahwa kehangatan hubungan di dalam
keluarga memberikan andil potensial bagi konsentrasi belajar siswa, sedang dari
sisi fungsional-pedagogis dan psikologis, alternasi pemilihan ekstra kurikuler
marching band sebagai primadona kegiatan kreatif siswa. Merujuk dari berbagai
sumber refrensi, secara emosional mampu meningkatkan kecerdasan, ketekunan,
kedisiplinan dan kebersamaan siswa, di mana pembelajaran seperti ini mungkin
hanya diperoleh secara teoritis belaka dari pelajaran sejenis lainnya, sedang
kegiatan marching band memberikan pembelajaran secara langsung dan praksis.
Paling tidak ada 4 (empat) variabel penting di dalamnya yang pantas untuk dikaji
lebih jauh, pertama; seni musik, kedua; seni olah fisik atau olah raga, ketiga;
seni olah tata busana, dan keempat; seni olah kepribadian. Dari keempat variabel
ini jika dikembangkan sebagai suatu bahan ajar atau kajian ilmiah yang tertuang
dalam satu paket pembelajaran mengenai marching band akan sangat memperkaya
khasanah pengetahuan siswa. Tentu, pembelajaran dimaksud tetap dalam konteks
mengelaborasi kegiatan marching band dari sisi teoritis maupun praksisnya. Dimensi
teoritis bisa dikonstruksikan mengupas visi sejarah, sosial, budaya maupun filosofisnya,
mengkaji musik secara umum maupun bahasa musik dalam konstruk marching band31;
seni olah fisik atau olah raga dalam marching band layak juga dikaji dari ilmu
pendidikan jasmani; sisi tata busana boleh pula dilihat sebagai pembelajaran
sopan santun dari citra berbusana yang baik32; pada kasus olah kepribadian,
pembelajaran bisa diapresiasi dari sudut tata nilai budi pekerti33.
Penutup
Di luar ini semua, secara teknis, peningkatan keilmuan marching band juga jangan
sampai terbengkelai pelatihannya. Kolaborasi yang elegan dengan para pelatih
handal kiranya layak untuk direkomendasikan, mereka diminta untuk menyusun pelatihannya
secara terstruktur sedemikian rupa hingga secara fungsional-pedagogis layak
untuk diangkat dalam sebuah silabus baku.
Akhir tujuan dari upaya ini semua adalah, menjadikan siswa layak berprestasi
baik secara rasional maupun emosional dalam artian, sikap mental dan watak siswa
menjadi lebih berbudaya, bertanggung jawab dan lebih dewasa dalam menghadapi
setiap permasalahan. Keempat variabel tersebut di atas disajikan secara padu
dan utuh dalam konteks dan bahasa pendidikan atau pembelajaran marching band.
Menjadikan siswa lebih mudah mencerna, jika pelajaran dengan kandungan dan muatan
tertentu 34 disampaikan secara nyaman, menghibur dan atraktif, dalam konteks
pendidikan atau pembelajaran marching band. (By/aDJ)
--------------------------------------------------
1 Pemikiran ini terdapat dalam tulisan Mochtar Buchori, Pendidikan Islam di
Indonesia: Problema Masa Kini dan Perspektif Masa Depan, dalam Prisma No. 5
Tahun XVIII, 1989, h. 77. Perbaikan inter-generasional telah terjadi apabila
pada umumnya anak-anak mampu hidup dengan cara-cara yang lebih baik dari pada
orang tua mereka. Sedang perbaikan intra-generasional dapat dibilang sukses
manakala sang adik telah mampu hidup secara lebih baik dari pada sang kakak
mereka. Menurut Mochtar kembali, bangsa Indonesia tak dapat menggantungkan diri
kepada perbaikan-perbaikan inter-generasional saja. Namun, perhatian pada perbaikan
intra-generasional juga mesti segera dilakukan.
2 A. Anderson, Modernisasi Pendidikan: Modernisasi dan Dinamika Pembangunan,
Jogjakarta, Gadjah Mada University Press, 1977.
3 Demi pendalaman referensi mengenai fenomena di atas, dipersilahkan mengunjungi
beberapa portal yang cukup concern terhadap edukasi marching band di Indonesia,
bisa disebutkan di antaranya www.trendmarching.or.id dan www.indomarching.net
4 Statemen ini pernah dikemukakan oleh Kirnadi (pelatih senior Marching Band)
dalam tulisannya, “Kegiatan Marching Band”, www.bengkelmusik.com,
hipotesa sederhana yang diajukan adalah, mereka yang hanya terbiasa menggunakan
otak kirinya dan kurang menggunakan otak kanannya, biasanya kariernya akan mandeg.
Orang seperti ini hanya mampu merinci secara lengkap dan menghitung secara teliti,
namun dalam membuat keputusan-keputusan selalu kurang tepat dan tidak memiliki
keberanian menempuh resiko, demikian preposisi Kirnadi.
5 Erman, S. Ar., Model-model Pembelajaran Matematika, Bandung: LPMP Jawa Barat,
2004.
6 Keterangan ini penulis dapatkan dari Pengurus Harian PDBI (Persatuan Drum
Band Indonesia) Jogjakarta, pada hari Jum’at tanggal 03 April 2009 pada
acara rapat koordinasi pengurus setempat.
7 Pada perspektif yang agak berbeda, Ary Ginanjar dalam tulisannya, “Rahasia
Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual, ESQ”, Jakarta: Penerbit
Arga, 2001, mengemukakan bahwa ada kecerdasan ketiga yaitu kecerdasan spiritual
(SQ, Spiritual Quotient) yang juga akan berkontribusi terhadap sukses individu,
sehingga tidak cukup seorang individu hanya dengan IQ dan EQ, melainkan akan
lebih sempurna jika ketiganya, yaitu IESQ berjalan seiring-sejalan.
8 Ekstra kurikuler marching band merupakan bagian dari pendidikan jasmani, dan
pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan keseluruhan, yang
bertujuan untuk mengembangkan individu secara organik, neuromuskuler, intelektual
dan emosional. Dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani, pertumbuhan dan
perkembangan intelektual, sosial dan emosional anak sebagian besar terjadi melalui
aktivitas gerak atau motorik yang dilakukan anak. Pendidikan jasmani menekankan
aspek pendidikan yang bersifat menyeluruh antara lain kesehatan, kebugaran jasmani,
keterampilan berfikir kritis, stabilitas emosional, keterampilan sosial, penalaran
dan tindakan moral, yang merupakan tujuan pendidikan pada umumnya. Atau secara
spesifik melalui pembelajaran pendidikan jasmani, siswa melakukan kegiatan berupa
permainan (game), dan berolahraga yang disesuaikan dengan pertumbuhan dan perkembangan
anak. Meskipun demikian unsur prestasi dan kompetisi juga terdapat di dalamnya
dan dimanfaatkan sebagai alat pendidikan (Drs. Cucu Hidayat, M.Pd., Model Inklusi
Dalam Pembelajaran Pendidikan Jasmani, http://educare.e-fkipunla.net).
9 Gumilar Rusliwa Somantri dalam tulisannya di Makara, Sosial Humaniora, Vol.
9, No. 2, Desember 2005, 57-65, Memahami Metode Kualitatif, dengan merujuk pada
Webster’s New Encyclopedic Dictionary (New York: Black Dog and Leventhan
Publ. Inc., 1994, h. 631) mendefinisikan metodologi secara umum sebagai “a
body of methods and rules followed in science and discipline”, sedang
metode sendiri adalah “a regular systematic plan for or way doing something”.
Kata metode berasal dari istilah Yunani, methodos (meta + bodos) yang artinya
cara.
10 Bobbi De Porter, Quantum Learning, New York: Dell Publishing, 1992.
11 http://pusatbahasa.diknas.go.id
12 E. Kusmana Fachrudin, Asas, Strategi-Metode, UPI, Bandung, 2000, h. 44.
13 Irianto, Pengantar Manajemen Edisi Kedua, IBII STIE, Jakarta, 1997, h. 247.
14 Mulia Nasution, Manajemen Modern, Pionir Jaya, Bandung, 2000, h. 11.
15 Suryabrata, S., Materi Dasar Pendidikan Program Bimbingan dan Konseling di
Perguruan Tinggi, Buku II C, Psikologi Belajar, Jakarta: Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, 1984-1985.
16 Masrun dan S.M. Martaniah, Psychology Pendidikan, Jogjakarta: Yayasan Penerbitan
Fakultas Psychology UGM, 1973.
17 Bruce. J. Cohen, Theory and Problems of Introduction to Sociology, Mc. Graw
Hill, Inc., New York, 1979.
18 D. Krech and RS. Crutchfield, Theory and Problems of Social Psychology, Mc.
Graw Hill Book Company, Inc., New York
19 Bruce. J. Cohen, Theory and Problems of Introduction to Sociology, Mc. Graw
Hill, Inc., New York, 1979.
20 Lihat Keputusan PB PDBI No. 17 Tahun 2004 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyelenggaraan
Lomba Drum Band, khususnya pada h. 27-28, Pasal 7: Peralatan/Instrument.
21 Ibid.
22 Purba Harjito dan Sukarti, Peranan Perhatian Orang Tua Mengenai Pendidikan
Formal Anak dan Kebiasaan Belajar Siswa Terhadap Prestasi Belajar Pada Siswa
Beberapa SMA di Kotamadya Yogyakarta, Berkala Penelitian Pasca Sarjana UGM,
Jilid 5, Nomer 4A, November 1992.
23 Goldman (2005), dalam Erman Suherman, “Model Belajar dan Pembelajaran
Berorientasi Kompetensi Siswa”, Educare Volume 5 Nomor 1, edisi Agustus
2007, http://educare.e-fkipunla.net, mengemukakan bahwa struktur otak, sebagai
instrumen kecerdasan, terbagi dua menjadi kecerdasan intelektual pada otak kiri
dan kecerdasan emosional pada otak kanan. Kecerdasan intelektual mengalir-bergerak
(flow) antara kebosanan bila terjadi tuntutan pemikiran rendah, dan kecemasan
bila terjadi tuntutan banyak. Bila terjadi kebosanan, otak akan mengisinya dengan
aktivitas lain, jika positif akan mengembangkan penalaran akan tetapi jika diisi
dengan aktivitasa negatif, misal kenakalan atau lamunan, akan berujung kesia-siaan.
Sebaliknya jika tuntutan kerja otak tinggi akan terjadi kecemasan-kelelahan.
Kondisi ini akan bisa dinetralisir dengan relaksasi melalui penciptaan suasana
kondusif, misalnya keramahan, kelembutan, senyum-tertawa, suasana nyaman dan
menyenangkan, atau meditasi keheningan dengan prinsip kepasrahan kepada sang
Pencipta. Dengan demikian aktivitas otak kiri semestinya dibarengi dengan aktivitas
otak kanan. Sel syaraf pada otak kiri berfungsi sebagai alat kecerdasan yang
sifatnya logis, sekuensial, linier, rasional, teratur, verbal, realitas, ide,
abstrak, dan simbolik. Sedangkan sel syaraf otak kanan berkaitan dengan kecerdasan
yang sifatnya acak, intuitif, holistik, emosional, kesadaran diri, spasial,
musik, dan kreativitas. Penting untuk diketahui bahwa kecerdasan intelektual
berkontribusi untuk sukses individu sebesar 20% sedangkan kecerdasan emosional
sebesar 40%, sisanya sebanyak 40% dipengaruhi oleh hal lainnya.
Seperti tersebut di atas, unsur musik disebut oleh Goldman untuk ‘menghidupkan’
sisi otak sebelah kanan, namun dalam konteks ini penulis coba mewacanakan kegiatan
marching band sebagai representasi dari pemikiran Goldman tadi, menurut hemat
penulis seni musik a la marching band ini mengandung sisi fungsional pedagogis
dari pembelajaran rasionalitas maupun emosionalitasnya, http://id.wikipedia.org/wiki/Marching_band.
24 W.F. Brown and W.H. Holtzman, Survey of Study Habits and Attitudes, Form
C., New York: The Psychologycal Corporation, 1965.
25 W.B. Kolesnik, Educational Psychology, New York: Mc. Graw Hill Book Company,
1970.
26 D. Keiter, Rahasia Belajar Yang Berhasil, IKIP Kristen Satya Wacana, Salatiga,
1976.
27 Puspa ragam mata lomba beserta peraturannya dapat dilihat dalam Buku Pegangan
PDBI (Persatuan Drum Band Indonesia) SK. Nomor: 17 Tahun 2004 Tentang Petunjuk
Pelaksanaan Penyelenggaraan Lomba Drum Band dan Peraturan dan Petunjuk Pelaksanaan
Lomba.
28 Goldman (2005), dalam Erman Suherman, “Model Belajar dan Pembelajaran
Berorientasi Kompetensi Siswa”, Educare Volume 5 Nomor 1, edisi Agustus
2007, http://educare.e-fkipunla.net
29 T. Kellaghan, Relationships Between Home Environment and Scholastic Behavior
an A Disadvantaged Population, Journal of Educational Psychology, 1977, 69,
No. 6, 754 – 760.
30 L.D. Crow and A. Crow, General Psychology, Revised Edition, Totowa, New Jersey,
Littlefield, Adams & Co., 1973.
31 Sebagai misal, elaborasi historis dan kultural mengenai divisi musik prajurit
Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, mengapa pihak kraton tetap mempertahankan
alat marching band sebagai simbol pelengkap performa prajurit kraton, apakah
terdapat maksud-maksud tertentu atau simbol-simbol tertentu yang diusahakan
ataukah hal itu hanya sebatas ritual tradisi belaka? Agaknya, siswa-siswi sekalian
tentu belum mengerti apalagi memahami historisitas di balik kenyataan di atas.
Mengapa pihak sekolah, khususnya di wilayah Jogjakarta sendiri atau para stake
holder terkait tak begitu peduli terhadap masalah identitas budaya seperti ini?
32 Setiap pergelaran dan pertunjukan marching band, sudah dapat dipastikan bahwa
setiap unit marching band memberikan penampilan terbaiknya, baik sisi musikalitasnya,
koreografi, blocking gerakan maupun tampilan citra seragam atau pilihan busananya.
Salah satu daya tarik dan magnet terkuat performa marching band adalah terletak
pada ‘fashion mode’ yang diwujudkan dengan rancangan atau disain
seragam personel dan mayoretnya. Semakin ‘modis’, kian mendongkrak
penampilan team secara keseluruhan. Pelajaran dari ranah ini adalah, para siswa
hendaknya berbusana sopan dan berlaku santun baik ketika di sekolah maupun di
luar sekolah, terutama ketika berada di tengah masyarakat.
33 Setiap siswa senantiasa ditegaskan bahwa, kegiatan marching band yang mereka
ikuti merupakan sebuah kegiatan yang jauh dari tujuan hura-hura, namun lebih
sebagai pusat untuk menempa kebersahajaan, kedisiplinan, kesabaran, keteraturan,
ketertiban, kebersamaan serta kepemimpinan berbasis moralitas yang disajikan
secara nyaman dan menghibur dalam bahasa sugestif yang mudah dicerna oleh anak
seusia mereka. Hingga akhirnya diharapkan, tata dan nilai perilaku keseharian
mereka tercermin dalam budaya yang santun, baik santun kepada agama, diri sendiri,
keluarga, guru serta masyarakatnya.
34 Dalam konteks tulisan ini, pelajaran dengan muatan tertentu misalnya, pelajaran
sejarah dan budaya mengenai marching band, sebagai contoh kasus, sejarah prajurit
kraton Yogyakarta yang menggunakan marching band sebagai pengiring defile prajurit
di setiap acara-acara budaya di kraton dimaksud. Para siswa diajak untuk aktif
berdiskusi membahas topik ini sebagai bagian pengenalan marching band dengan
berbasis perspektif sejarah dan budaya luhur bangsa, pada bagian ini sangat
kondusif sekali bagi para guru untuk memasukkan muatan-muatan pelajaran lainnya
seperti pelajaran budi pekerti berbasis moralitas budaya bangsa. Dengan kegiatan
marching band, pembelajaran mengenai identitas budaya bangsa kepada siswa seperti
case study yang terjadi pada divisi musik prajurit Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat,
dapat lebih diberdayakan dan dieksplorasi lagi secara maksimal. Paling tidak,
siswa secara proaktif diajak untuk melihat sejarah marching band di Indonesia
dari perspektif sejarah dan budaya bangsa sendiri, seiring dengan sejarah yang
diukir dengan tinta emas oleh perjalanan panjang divisi musik prajurit Kraton
Ngayoyakarta Hadiningrat. Pada gilirannya, pembelajaran marching band model
seperti ini diharapkan atau diproyeksikan ke depan nantinya, akan dapat menumbuhkembangkankan
minat sekaligus rasa bangga di antara para siswa terhadap ekstra kurikuler marching
band. Mampu membuka mata para siswa bahwa, marching band bukan sekedar kegiatan
hura-hura, tapi ia lebih menyentuh pada kedalaman kesadaran siswa, orang tua,
pihak sekolah serta para stake holder terkait bahwa, dibalik ‘glamouritas’
ekstra kurikuler marching band, tersembunyi kekuatan dan pesan sejarah budaya
serta moralitas budaya bangsa ini, khususnya tradisi dan budaya Jawa yang direpresentasikan
oleh divisi musik marching band tradisional prajurit Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Sumber : http://www.ppromarching.com
Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |